ppi] [ppiindia] Membongkar Kedok “RM Hutasoit” tokoh Pemurtadan “Daolos” beratribut Islam yang ingin menjadi Calon Presiden Republik Indonesia
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Oktober 7, 2008
Baca Artikel dibawah ini yg membongkar Konspirasi Kristen melalui Proyek Yusuf2004 via RM.Hutasoit yg menjabat sebagai Ketua Umum PDS. Ybs adalah juga Ketua yayasan Doulos yg terbakar tahun 2001 lalu akibat praktek illegal Pemurtadan dengan berkedok Islam. Disitus www.Partaidamaisejahtera.com bisa antum lihat praktek praktek ritual menghadirkan roh jesus dll. Bahkan ditenggarai ybs juga sebagai agen Yahudi untuk memecah belah Indonesia.
Apakah kita umat Islam mau berdiam saja? Ayoo bersatu… http://swaramuslim.net/comments.php?id=1249_0_1_0_C http://swaramuslim.net/comments.php?id=1251_0_1_0_C http://swaramuslim.net/comments.php?id=1252_0_1_0_C http://swaramuslim.net/comments.php?id=1253_0_1_0_C http://swaramuslim.net/comments.php?id=1254_0_1_0_C http://swaramuslim.net/comments.php?id=1255_0_1_0_C http://swaramuslim.net/comments.php?id=637_0_1_0_C Douloslah pelaku Acara Natalan Gereja di Cipayung yang semua jamaatnya menggunakan Attribut Islam, silahkan lihat gambarnya di : http://swaramuslim.net/images/uploads/murtadin/atribut_islam/hutasoit_Doulos_pds.jpg Coba perhatikan apa kata Evanjelis Rusyandi Hutasoit dibawah ini. “Kasihan mereka. Tidak berbudaya karena tak berdaya.” Siapa Mereka yang dimaksud? Nah ini salah satu fakta kerjaan orang Kristen yang mengamalkan ayat2 Alkitab, yang dinamakan ayat Bunglonisme (ajaran Mr. Paulus.) berbagai cara mereka lakukan termasuk salah satunya menggunakan attribut Islam. Yayasan Doulos dibawah kepeimpinan Hutasoit “dibakar” oleh massa tak dikenal pada tahun 2001 lalu, telah membuat Hutasoit terkenal diseluruh dunia. Lalu timbul edaran email “proyek Yusuf 2004″ dan hari ini semua benar benar terbukti bahwa ada benang merah “DOULOISASI INDONESIA” yakni pemurtadan rakyat Indonesia melalui pemilu 2004. Trend Strategi Kontekstualisme Penipuan adalah esensi dari strategi kontekstualisme. Caranya bisa dengan memakai atribut keislaman, bahasa setempat dan lain sebagainya. sabili – Djuyoto Suntani pada bulan Februari 2000 diundang seorang penginjil menghadiri perayaan Maulud Nabi Isa a.s. Presiden The World Peace Committee (Komite Perdamaian Dunia) ini hadir dan menyimak dengan baik setiap ucapan pembicara utama, seorang pendeta berperawakan tinggi besar bernama Muhammad Nurdin. Sebelum menguraikan materi pokok, pendeta itu memperkenalkan diri, ?Mengapa nama saya Muhammad? Nama Muhammad adalah nama yang umum dipakai di negara-negara Arab. Ketika saya mengikuti pertemuan gereja-gereja se-dunia di Beirut, Lebanon, pendeta yang bernama Muhammad ada 12 orang. Mereka dari Maroko, Irak, Mesir, Lebanon, Syria, Sudan, Nigeria, Yordania, Kamerun, Tanzania, Aljazair dan Tunisia?? Kejadian di atas dikutip dari buku Djuyoto sendiri (8 Strategi Kristenisasi di Indonesia, 2001). Selain nama-nama Pendeta, gereja-gereja pun kini banyak yang memakai nama Arab. ?Di Surabaya, misalnya, kita mengenal ada gereja Isa Almasih, juga dekat Kalimas ada gereja Bukit Zaitun, di tempat lain ada gereja Almukaromah, gereja Siti Maryam, dan seterusnya,? ujar Djuyoto (hal.90). Masih menurut pria kelahiran Jepara ini, sebuah gereja di kawasan Sunter, Jakarta Utara, sejak 1998, tiap acara kebaktian di hari Minggu, jemaatnya mengenakan pakaian ala para santri pondok pesantren. Mereka mengenakan kain sarung, terkadang stelan celana baju koko, berkopiah warna hitam atau putih, dan lainnya. Hal serupa juga ditemui di Bekasi, di Selatan Depok dan sebuah gereja di kawasan Tugu, Jakarta Utara. Kasus serupa juga pernah terjadi di Gereja Katolik Servatius di Kampung Sawah, Pondok Gede, beberapa tahun lalu. Saat memperingati Natal, semua jemaatnya memakai pakaian Betawi yang selama ini sudah identik dengan budaya Islam. Yang laki memakai baju koko lengkap dengan sarung dan peci. Sedang yang perempuan memakai kebaya dengan kerudung. Bahkan SABILI yang berada di tengah-tengah jemaat, sempat mendengar seorang ibu yang juga panitia senior acara itu dipanggil ?Ibu Haji? oleh para jemaatnya, hanya lantaran mengenakan kerudung dan kebaya. Masih di Pondok Gede, kawasan Cipayung beberapa tahun lalu juga sempat jadi sorotan akibat terbakar habisnya kompleks Yayasan Doulos oleh masyarakat sekitar. Persoalannya klise, masyarakat sekitar yang mayoritas Betawi tidak sudi digiring untuk murtad dari Islam oleh Yayasan tersebut. Apalagi keberadaan yayasan tersebut diduga kuat tidak sah, karena lahan yang ditempatinya sesungguhnya untuk taman. Dalam tabloid Victorius, pimpinan Yayasan Doulos, Ev. Ruyandi Hutasoit yang kerap memakai peci mengaku bahwa peci merupakan salah satu sarana penginjilan baginya. ?Alkitab bilang, bagi orang Yahudi, saya menjadi Yahudi. Bagi orang Yunani, saya menjadi orang Yunani. Bagi orang Muslim, saya mengenakan peci,? ujarnya. Brosur-brosur sejenis ?Dakwah Ukhuwah? yang banyak menyitir ayat-ayat Al Qur?an tapi diplesetkan artinya sehingga menuhankan Yesus pun banyak ditemukan di sini. Doulos juga pernah menyelenggarakan acara Gebyar Paskah Pasundan di Istora Senayan (1/5/99). Sekitar duabelasribu orang Kristen hadir dalam acara itu. Yang laki berbaju koko dan berpeci, sedang yang perempuan memakai kebaya dan berkerudung. ?Orang Jawa Barat itu suku yang sangat senang dengan budaya. Budayanya sangat kuat. Karena itu kita harus bisa masuk melalui budaya Sunda,? ujar Ketua Umum Badan Kerjasama Gereja-gereja se-Jawa Barat, Evangelis J. Simon Timorason, BE yang berkhotbah dalam acara itu. Mencermati kasus-kasus di atas, Sekjen FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan) Abu Deedad pada SABILI berkomentar, ?Cara-cara pemurtadan seperti itu lazim disebut dengan strategi kontekstualisme. Jadi mereka, dalam melancarkan upaya pemurtadannya terhadap umat Islam, memakai segala atribut keislaman. Esensinya adalah penipuan. Adakah strategi kontekstualisme baru kali ini saja diterapkan para perampok akidah? Jika merunut perkembangan pemurtadan, strategi ini sesungguhnya sudah lama dipergunakan. Satu contoh kecil adalah patung Yesus yang wajahnya berbeda di setiap negara. – Patung Yesus di Jepang, maka wajahnya akan sipit mirip orang Jepang dan berkulit terang. – Patung Yesus di Eropa, maka Yesus-nya pun mirip orang Eropa, berambut bule. – Jika di Afrika, maka Yesus-nya pun berambut ikal kecil-kecil, berkulit hitam legam, dan berbibir tebal. Ini sudah berjalan sangat lama. Ada pun strategi ini dalam perkembangannya menggunakan identitas-identitas keislaman, maka hal itu bisa jadi baru belakangan saja. Sebab itu, sekarang ini umat Islam harus ekstra waspada. Banyak stiker berbahasa Arab di jual di pasaran, namun bukan berisi ayat Al Qur?an melainkan ayat-ayat Injil. Ada pula kaset tilawah Injil yang juga berbahasa Arab, mirip sekali dengan suara tilawah Al Qur?an. Nama-nama orang pun demikian. Orang yang bernama Muhammad sekarang ini, belum tentu muslim. Strategi kontekstualisme dalam upaya pemurtadan dari hari ke hari akan lebih berani lagi, jika tidak ada perlawanan dari umat Islam. Sebab itu, harus dipikirkan cara dan strategi yang matang untuk mengantisipasi upaya pemurtadan seperti itu. Sumber : http://groups.yahoo.com/group/sabili/message/52601 From: YUSUF 2004 Date: Wed Dec 31, 2003 10:10 am

