Salah satu dari konsep beracun yang menodai umat Nabi Muhammad Saw. ini adalah nasionalisme. Nasionalisme adalah konsep yang sangat berbahaya yang telah menjadi dasar emosinal para negarawan dari kalangan umat (Islam) dan membentengi mereka yang menyatakan mengimani ideologi yang sama, yaitu Islam. Umat Islam secara nasionalistik mengindetifikasikan diri mereka Bangsa Turki, Arab, Afrika, Malaysia, Indonesia, Pakistan, dan seterusnya. Hal ini tidak cukup sampai disini. Kaum muslimin masih dibagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk ‘Konspirasi Laknatullah’ Kategori
Sebuah Ikatan Yang Bathil
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada September 4, 2009
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Menguak Sisi Lain Bom Marriott dan Ritz Carlton
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Agustus 6, 2009
Ada banyak pertanyaan yang perlu diungkap dalam setiap aksi peledakan bom di Indonesia. Termasuk dalam bom Mariott dan Ritz Carlton pada 17 Juli lalu.
Pasca peledakan bom Marriott-Ritz Carlton, booming pemberitaan mengarah pada satu angle: Keterlibatan Jamaah Islamiyah dan jaringan Noordin M Top. Hampir semua media massa menayangkan secara berulang-ulang tentang keterkatian jaringan Noordin M Top dengan aksi bom tersebut. Termasuk mengarahkan opini bahwa basis-basis gerakan Islam seperti di Jawa Tengah adalah tempat yang at home bagi Noordin untuk berlindung dari buruan Densus 88. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Catatan Adian Husaini Tentang Bom Hotel Marriott
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Juli 17, 2009
Publikasi 08/08/2003 19:48 WIB eramuslim – Hari Selasa (5 Agustus 2003) siang, sekitar pukul 14.00 WIB waktu Malaysia atau pukul 13.00 WIB, saya menerima SMS dari seorang wartawan Republika di Jakarta. Isinya singkat: “Hotel JW Marriot dibom, bos Texmaco Sinivasan bunuh diri”. Ternyata, Hari Selasa itu, sekitar pukul 12.44 WIB, Hotel JW Marriot memang dibom. Televisi Malaysia yang biasanya sangat jarang menyiarkan berita tentang Indonesia, kali ini menjadikan berita itu sebagai headline. Malamnya, TV3 menyiarkan laporan perkembangan berita itu secara langsung dari Jakarta, merelay pemberitaan salah satu TV swasta di Indonesia. Televisi dan media massa di KL selalu memberitakan, bahwa hotel itu adalah milik Amerika, dan media massa sudah menggiring bahwa pelaku dari pengeboman itu adalah Jamaah Islamiyah (JI). Hingga hari Kamis esoknya, arah pemberitaan media massa di Indonesia pun sudah tertuju kepada JI sebagai pelaku pengeboman itu. Pengeboman itu segera mendapatkan liputan luas di dunia internasional dan memancing kecaman-kecaman dari dunia internasional: Australia, AS, Filipina, dan sebagainya. Bahkan, kemudian, banyak negara menawarkan bantuan untuk membantu Polri menyelidiki pengeboman itu. Marilah kita telaah kasus ini, dari perspektif problematika yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, dan dampaknya bagi umat Islam secara keseluruhan. Pada siang hari Rabu itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Basyir Achmad Barmawi dan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Prasetyo mengungkapkan, bahwa kawasan Kuningan, tempat Hotel JW Marriott berada, merupakan salah satu dari 56 sasaran bom oleh Jemaah Islamiyah (JI), seperti yang tercantum dalam dokumen JI yang ditemukan di Semarang beberapa waktu lalu, meskipun dalam dokumen JI, tidak disebutkan secara rinci nama Hotel JW Marriott. Namun, polisi belum menyebutkan secara jelas bahwa JI berada di balik teror di Marriott karena itu Yang menarik, Kamis (7 Agustus 2003) pagi, Kompas sudah memberitakan, bahwa Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menyatakan, bom di Jakarta berkaitan dengan Jemaah Islamiyah. Downer mengingatkan kemungkinan serangan baru oleh kelompok militan yang berkaitan dengan Al Qaeda. Downer juga mengatakan kepada wartawan agar warga negara Australia memperhatikan larangan bepergian ke Indonesia dengan serius. Menurut Kompas, sehubungan dengan bom tersebut, seorang operator JI yang tidak diketahui namanya menyebutkan kepada surat kabar Singapura, The Straits Times, bahwa ledakan bom di Hotel JW Marriott itu sebagai “peringatan berdarah” kepada Presiden Megawati Soekarnoputri. Operator JI itu menyatakan, bom yang menewaskan 10 orang itu sebagai, “Pesan untuk dia (Presiden Megawati) dan seluruh musuh kami. Apabila mereka mengeksekusi saudara-saudara Muslim kami, kami akan terus melancarkan kampanye teror di Indonesia dan di kawasan ini”. Polisi sendiri tetap berpegang kepada fakta-fakta di lapangan. Cobalah kita analisis berita Kompas dan The Straits Times itu. Dari sudut jurnalistik, berita itu sebenarnya berita sampah dan tidak layak muat. Terlepas dari siapa pun yang melakukannya, kita perlu mengkritisi, kemana berita ini akan digiring. Sumber berita The Straits Times, itu adalah “seorang operator JI yang tidak diketahui namanya”. Inilah anehnya. Bagaimana diketahui bahwa sumber berita itu adalah “seorang operator JI”? Berita-berita model seperti ini yang mengarahkan pelaku terror kepada umat Islam – sebelum ada bukti yang jelas — sering terjadi. Biasanya, disebutkan, bahwa pelaku terror menghubungi lewat telepon, atau mengirimkan faksimili yang tidak disebutkan identitas pengirimnya. Bayangkan, bagaimana jika setelah bom Mariot itu meletus, lalu ada seorang yang mengaku sebagai kader Golkar, dan tidak menyebutkan namanya, mengaku bahwa dialah pelakunya. Apakah media massa boleh menyiarkan berita, bahwa “seorang yang mengaku sebagai kader Golkar telah mengaku melakukan pengeboman itu”. Tugas media massa adalah melakukan klarifikasi atau cek dan ricek terhadap setiap berita yang diterimanya. Jika berita itu meragukan sumbernya, maka seyogyanya, berita itu tidak dimuat. Kita tidak tahu, mengapa Kompas memuat berita dari The Straits Times itu. Mengapa bagian dari berita itu sangat perlu kita soroti? Sebab, isi berita itu sangat berbahaya. Yaitu, ingin mengadu domba antara Jamaah Islamiyah dengan Megawati. Simaklah kembali pesan orang tidak bernama itu yang ditulis sebagai operator JI: “Pesan untuk dia (Presiden Megawati) dan seluruh musuh kami. Apabila mereka mengeksekusi saudara-saudara Muslim kami, kami akan terus melancarkan kampanye teror di Indonesia dan di kawasan ini.” Pesan itu dengan sangat jelas menyatakan, bahwa Megawati adalah musuh Islam dan telah mengeksekusi saudara-saudara Muslim. Terlepas kita kritis terhadap ideology Megawati, tetapi kita perlu fair bertanya, dimana Megawati mengeksekusi kaum Muslim? Megawati bukanlah Ariel Sharon. Redaksi itu kelihatannya dibuat dengan muatan pesan yang sangat canggih, bahwa Jamaah Islamiyah dan kelompok-kelompok militan Islam adalah musuh Megawati, musuh TNI, dan bukan hanya musuh Amerika, Israel, Singapura, atau Australia. Kita perlu melakukan kilas balik sejarah untuk memahami canggihnya pesan singkat itu. Sejak meletus Tragedi WTC, 11 September 2001, AS menggemakan satu politik baru di dunia internasional: yaitu Perang melawan terorisme. Lalu, dibuatlah daftar teroris yang harus diperangi. Yang paling utama adalah al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Dunia dibagi dua oleh Presiden George W. Bush: poros kebaikan dan poros setan. Kata-kata George W. Bush yang terkenal adalah: “You are with us or you are with the terrorist.” Tidak ada kata abu-abu. Ketika itu, Indonesia masih enggan mausk barisan AS dalam menggempur teroris versi AS. Bahkan, ketika AS menyerang Afghanistan, Indonesia termasuk yang gencar mengkritik. Bahkan, soal JI dan seterusnya, Indonesia masih belum bertindak. Meskipun majalah Time sudah berkali-kali membuat laporan tentang aktivitas JI di Indonesia, dan mengangkat soal Abubakar Baasyir, Indonesia belum mengambil tindakan apa-apa. Wapres Hamzah Haz malah bertemu dengan Abu Bakar Ba’asyir, dan juga Habib Riziq Shihab dan Ja’far Umar Thalib. Titik balik semua itu adalah kasus Bom Bali, 12 Oktober 2002. Apalagi, setelah tertangkapnya Imam Samudera dan kawan-kawan yang mengaku sebagai JI dan mengakui keterlibatan mereka dalam kasus bom Bali. Kini, belum reda kasus Bom Bali, pengadilannya masih berlangsung, meletus lagi kasus Marriot. Dalam sebuah pertemuan sejumlah pimpinan Ormas Islam dengan Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono, saya pernah sampaikan kekhawatiran, bahwa terror bom akan meledak di Jakarta, setelah bom Bali, jika respon yang diambil pemerintah RI terhadap kasus Bom Bali, masih dianggap “belum memadai”. Ini jika kita membayangkan, adanya satu “teori konspirasi” bahwa bom Bali bukanlah murni agenda Imam Samudera dan kawan-kawan,tetapi ada agenda-agenda asing lain di Indonesia. Teori konspirasi ini memang sangat sulit dibuktikan, meskipun bisa diraba dan dirasakan. Ketika kasus Marriot itu terjadi, saya berpikir, mengapa Marriot yang dipilih? Apakah karena Marriot milik Amerika? Saya dua kali menghadiri acara makan siang atas undangan seorang diplomat dari satu negara Islam di Hotel itu. Hotel bintang lima itu memang sangat indah dan cukup ramai. Sekali waktu, untuk makan siang saja, harus antre dan tidak kebagian tempat, sehingga harus pindah ke tempat lain. Banyak diplomat asing berkumpul di saat jam makan siang. Mungkin karena itu, maka pihak pengebom memilih pukul 12.44 sebagai saat pengeboman. Pesan yang ingin disampaikan, tentu, agar aksi mereka mendapatkan perhatian yang luas di dunia internasional, sebab korbannya pun bukan hanya orang Indonesia. Mungkin mereka tahu, pemerintah Indonesia akan lebih responsif jika yang mati rakyatnya sendiri. Tujuan mereka cukup tercapai. Kini, pihak internasional sudah memberikan perhatian besar, dan meminta agar pelaku bom Mariot itu segera dibongkar. Kembali ke pesan orang JI yang tidak dikenal yang dikutip The Starit Times tadi. Jika – sekali lagi jika – bom Bali dan bom Mariot adalah bagian dari konspirasi kepentingan politik global, maka analisis perlu dibuat secara lebih luas, bahwa kasus ini sudah dirancang dengan sangat canggih, termasuk dampak social politiknya. Kita perlu paham, bahwa yang paling ditakuti pihak AS, Israel, dan sebagainya, pasca Perang Dingin, adalah kelompok-kelompok yang mereka sebut sebagai “Islam militan”, “Islam fundamentalis”, “Islam radikal”, dan sebagainya. Dalam scenario berdasarkan teori konspirasi ini, maka JI adalah pintu masuk untuk menggulung kelompok-kelompok yang sudah dicap militan itu. Karena itulah, begitu terjadi kasus bom Mariot, Menlu Australia Alexander Downer, tidak lupa menyisipkan sebutan “militan” dalam ucapannya. Dia katakan adanya kemungkinan serangan baru oleh elompok militan yang berkaitan dengan Al Qaeda. Mungkin, pembuat skenario bom Bali belum merasa puas dengan hasilnya, dimana kelompok-kelompok yang dianggap militan Islam atau radikal Islam belum ditumpas habis. Untuk memperjelas masalah ini, ada baiknya kita simak ucapan Menteri senior Singapura Lee Kuan Yew beberapa waktu lalu. Ketika itu, awal Juni 2002, Lee Kuan Yewn membuat beberapa pernyataan penting: (1) Indonesia dalah sarang Islam militan (2) Muslim Militan di Asia Tenggara sedang berkomplot menggulingkan pemerintah (3) Mendesak AS agar membantu militer Indonesia, karena hanya militer yang dapat menumpas Muslim militan. (Lihat: Koran Tempo, 2 Juni 2002, Media Indonesia, 3 Juni 2002). Pada bulan Februari 2002, Lee Kuan Yew menyatakan, bahwa Singapura masih merasa terancam oleh sel-sel ekstrim teroris yang berkeliaran di Indonesia. Posisi Singapura yang terjepit oleh Indonesia dan Malaysia, mungkin menyebabkan negara ini mengalami paranoid, bahwa kalau Islam militan yang memegang kekuasaan di Indonesia, atau mereka dibiarkan bebas, maka mereka tidak dapat tidur nyenyak. Karena itulah, Lee Kuan Yew sangat berkepentingan dengan perkembangan politik Indonesia. Pada tahun 1998, Lee Kuan Yew juga mengingatkan Indonesia, agar jangan salah memilih wakil Presiden. Kata Lee, “Pasar uang akan bereaksi sangat negatif kalau sampai Indonesia memilih orang yang salah untuk menjadi wakil presiden.” Pernyataan Lee itu mengarah pada figur Habibie. (Gatra, 21/2/1998). Kita tahu, bahwa para tokoh politik asing itu tidak pernah mendefinisikan secara jelas, siapakah yang disebut “militan.” Apa definisi militan. Istilah ini sudah digunakan secara serampangan untuk menunjuk kaum Muslim yang tidak disukai Barat. Biasanya, istilah ini diperlebarkan, kepada orang-orang Muslim yang ingin memperjuangkan syariat Islam. Sekarang, perang melawan Islam militan atau fundamentalis sudah identik dengan perang melawan terorisme. Sebab, media massa banyak yang sengaja mengaburkan kedua istilah tersebut. Sebagai contoh, Harian Kompas (31 Januari 2002) dalam berita yang diberi judul “AS Mulai Perang Terorisme di Filipina”, ditulis kata-kata sebagai berikut: “Pasukan Amerika Serikat (AS) membuka front baru dalam memerangi terorisme. Kamis (31/1), mereka mulai menggelar operasi yang dirancang untuk memberi pelatihan memerangi kelompok militan.” Jadi, kita bertanya, yang diperangi oleh AS itu “teroris” atau “militan”? Dalam “Catatan Pinggirnya” di Majalah Tempo, 27 Januari 2002, Gunawan Muhammad menutup tulisannya: “Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan.” Di Majalah Newsweek, Special Davos Edition, December 2001-February 2002, Francis Fukuyama mencatat: “Radical Islamist, intolerant of all diversity and dissent, have become the fascists of our day. That is what we are fighting against.” Sementara Jaringan Islam Liberal, dalam situsnya, www.islamlib.com, mencatat: Kekhawatiran akan bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama sempat membuat banyak orang khawatir akhir-akhir ini. Kita sudah melihat, bahwa dalam perang melawan terorisme, AS bukan hanya memerangi kelompok bersenjata Islam tetapi juga memerangi pendidikan Islam. Karena itulah, AS meminta agar kurikulum pendidikan Islam di Arab Saudi diubah, karena dianggap menyumbang pada radikalisme. Karena ituah, kelompok seperti Islam Liberal, menyambut trend itu dengan ikut memojokkan kaum militan, dengan menyatakan: “pandangan-pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang ada, sebut saja antara Islam dan Kristen..Pandangan-pandangan keagamaan yang terbuka, plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.” Jadi, jika kita tarik dari pernyataan Lee Kuan Yew, Downer, dan sebagainya, kita perlu merenungkan dengan mendalam, apakah bom-bom Bali, Marriot, atau entah bom mana lagi, ada hubungannya dengan agenda besar Barat menumpas “militan Islam” dengan menggunakan tangan bangsa Indonesia sendiri? Ini pernah terjadi pada kasus adu domba antara Laskar Jihad dengan PDIP di Ngawi, Ramadhan 1423 H. Kasus tuduhan pembunuhan terhadap Megawati oleh JI. Juga, dalam berita The Straits Times dan Kompas tentang Bom Mariot itu. Benarkah? Wallahu a’lam. Analisis ini bukan untuk membela apakah JI pelaku bom Mariot atau tidak? Yang penting, kasus ini harusnya menjadi pelajaran, semua komponen bangsa untuk mawas diri, dan segera merumuskan agenda bangsa sendiri, serta menentukan strategi dan cara membangkitkan bangsa yang sedang dalam kondisi kritis ini. Agenda bangsa ini sangat besar, dan perlu dirumuskan dengan seksama. Membongkar pelaku pengeboman Hotel Marriot adalah penting, namun, media massa harusnya juga bersikap adil, bahwa pembebasan utang luar negeri yang zalim yang besarnya mencapai Rp 1200 trilyun, juga sangat penting. Karena, utang itu secara tidak langsung telah membunuh jutaan rakyat kita, memiskinkan mereka, merampas hak pendidikan dan kesehatan mereka. Sebab, hak rakyat Indonesia untuk menikmati hasil kekayaan alam, dirampas untuk membayarkan utang yang bukan dibuat mereka dan sekitar Rp 300 trilyun diantaranya diduga kuat dikorup. Belum lagi soal agenda kehancuran moral bangsa yang parah. Semua itu perlu dipikirkan, agar kita jangan dikelabui bahwa tidak ada masalah yang lebih penting bagi bangsa ini kecuali membahas Imam Samudera dan Marriot. Jika sudah memahami posisi dan aganda kita, maka Insya Allah, kita akan mampu berjalan pada rel yang benar. Mudah-mudahan Bom Mariot tidak membuat lupa akan utang trilyunan rupiah para konglomerat hitam, pelarian uang rakyat ke luar negeri, kasus penjualan Indosat, pencurian ikan, dan sebagainya. Wallahu a’lam.
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
KEANEHAN BOM MARRIOTT
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Juli 17, 2009
Pelakunya warga Amerika atau Israel yang menguasai bom nonkonvensional. Itu analisis Joe Vialls, ahli masalah peledakan dari Australia.
Jakarta CCTV Proves Bush & Howard Lying About “Muslim Terrorists”
Teror bom tampaknya tak akan segera berakhir menghantui Indonesia.. Setelah meledaknya bom di hotel J.W. Marriott (5/8), sejumlah pejabat yang membidangi masalah keamanan – terutama Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dan Menhan Matori Abdul Djalil — mengungkapkan bahwa ledakan yang lebih besar akan terjadi tepat pada saat peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI (17/8). Tapi, ramalan itu tidak terbukti, karena bom hanya meledak di kawasan konflik Nanggroe Aceh Darussalam, dan itu dianggap sebagai hal yang lumrah. Korban di Tanah rencong sungguh tak dihitung dan dipedulikan betul oleh pemerintahan Megawati. Para petinggi yang sudah berhasil “meneror” rakyatnya sendiri dalam memperingati kemerdekaan ke-58 tahun, tak berkomentar apapun. Tak ada penjelasan, tak ada kata maaf, seperti biasanya. Namun, rakyat semakin tak yakin bahwa kedamaian dan ketenangan akan segera terwujud.
Bom Marriott adalah contoh yang bagus, betapa sebuah rekayasa ketakutan massal selalu mengandung celah kejanggalan. Tak ada yang sempurna dari sebuah operasi yang memiliki target tertentu, dan dilakukan bertubi-tubi, dengan ukuran keberhasilan yang tidak jelas. Itu hanya manifestasi kebijakan penguasa yang merasa terancam, apabila kebohongannya terungkap. Upaya menangkis suara kritis media yang melakukan investigasi intensif, dan analisis para pengamat yang tak mudah ditipu dengan dengan operasi penyesatan.
Salah seorang pengamat yang secara konsisten menentang “kampanye perang terhadap terorisme internasional” yang digencarkan sepihak oleh pemerintah Amerika Serikat adalah Joe Vialls, ahli masalah peledakan dari Australia. Dalam situs pribadinya yang dapat diakses masyarakat di seluruh dunia, Vialls mengungkapkan sejumlah fakta lapangan (hard facts) yang tak terbantahkan dan sekaligus tak terjelaskan. Pendapat PM Australia John Howard dan Presiden AS George W. Bush tergesa-gesa menuding pelaku bom Marriott adalah kelompok “Jemaah Islamiyah” disanggah Vialls habis-habisan. Dengan analisis yang tajam dan bukti-bukti kuat (strong evidents) lebih dari cukup, Vialls berkesimpulan sebaliknya, pelakunya adalah warga Amerika atau Israel yang menguasai bom nonkonvensional.
Jika dalam peristiwa bom Bali (12 Oktober 2002), Vialls berkesimpulan bahwa bom di depan Sari Club berbeda dengan bom yang meledak di Paddy’s Bar, yakni jenis special atomic demolition munition (SADM) – atau lebih dikenal dengan nama “bom nuklir mini” (micro nuke). Simpulan Vialls tentu saja menggegerkan dunia dan menggelisahkan petinggi AS dan Australia yang mengklaim paling berkepentingan dalam menangkal terorisme di dunia dan kawasan Asia Pasifik. Maka, dalam kasus bom Marriott, Vialls menyanggah keterangan Polri – yang didukung penuh oleh Polisi Federal Australia (AFP) dan Biro Investigasi Federal AS (FBI), bahwa bom itu diledakkan seorang operator yang mengendarai mobil Toyoto kijang di depan lobi hotel. Sebuah tipuan jitu untuk membenarkan asosiasi publik, bahwa modus yang sama persis dengan peledakan bom Bali. Namun Vialls membantahnya sekeras mungkin.
Pertama, secara teliti Vialls mengamati bahwa lobang yang terbentuk akibat di lantai lobi setebal 30 sentimeter itu membuktikan bahwa bom dipasang di basement, persis menempel di langit-langitnya. Mungkin saja ada bom di dalam mobil, juga bensin dalam jirigen, tapi itu bukan penyebab lobang besar, karena bahan potasium yang disebut Polri seberat 300 kilogram tak mungkin menimbulkan efek sekuat itu. Bahkan, jika dilontarkan dari udara sekalipun, misalnya menggunakan pesawat tempur atau helikopter, maka lantai beton dan aspal itu belum tentu tembus. Jadi, siapa yang bisa memasang sebuah bom berkekuatan tinggi di sebuah hotel yang memiliki tingkat security paling ketat di Ibukota Jakarta itu? Temuan yang menarik dari Vialls itu perlu ditelusuri dan diuji oleh Polri, jika simpulan aparat tidak ingin ditertawakan oleh para ahli peledakan sedunia. Kebodohan kita hari ini akan menimbulkan penyesalan sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang, ketika rezim kekuasaan berubah dan semua kebohongan terbongkar dengan sendirinya, setidaknya lewat sinyal yang telan dikemukakan Vialls.
Kedua, Vialls amat terkesan dengan rekaman gambar yang disiarkan luas oleh media internasional, bahwa asap putih membumbung tinggi beberapa saat setelah ledakan. Bagi Vialls, dan semua ahli peledakan pasti menyetujuinya, bom berbahan potasium-parafin-TNT yang disebut Polri tidak akan menimbulkan efek semacam itu. Mestinya, kalau keterangan Polri bisa dipercaya (seperti teori bom potasium seberat 1000 kilo yang diledakkan Amrozi cs), efek yang muncul adalah warna hitam kotor yang menyebar secara horizontal. Padahal, yang terjadi justru asap putih menjulang ke atas secara vertikal. Inilah bukti kekuasaan Tuhan yang tidak bisa diakali. Bom dan pelakunya sudah pasti mudah direkayasa, tapi efek dari peledakan dengan bahan tertentu tak ada yang bisa mengakali sesuai dengan keinginannya. Sunnatullah berlaku pada semua peristiwa, tak ada yang luput atau menyimpang. Bahkan, para perekayasa ulung pun harus menaati Sunnatullah, jika rahasianya tidak ingin terbongkar.
Ketiga, Vialls menyaksikan – dan mestinya kita juga membuktikan hal yang sama jika secermat dia – bahwa kaca-kaca lobi yang pecah, ujung serpihannya yang tersisa menjorok keluar. Hal itu tampak jelas ketiga aparat polisi mengumpulkan bukti yang tercecer dan membersihkan puing yang tak perlu. Karena itu asal ledakan, menurut Vialls, kemungkinan besar dari dalam lobi, dimana bom diletakkan di langit-langit basement. Vialls menjadi lebih yakin, tatkala efek ledakan menimbulkan kerusakan kaca jendela apartemen di depan hotel. Bom itu cukup dahsyat, meskipun kekuatannya masih dibawah bom Sari Club, terbukti dari jendela di lantai 25 apartemen ikut rusak.
Sekali lagi, siapa yang memasang bom di langit-langit basement agak menjorok ke dalam lobi, dalam simpulan Vialls? Pertanyaan itu mungkin tidak akan terjawab dalam waktu dekat sebagaimana teka-teki masih menyelimuti bom Bali: mengapa ada kapal asing berbendera Amerika merapat di Bali beberapa hari sebelum ledakan, mengapa banyak tentara Australia yang berada di lokasi dan menjadi korban ledakan tapi segera dievakuasi tanpa visum seperlunya, mengapa saksi-saksi kunci warga Indonesia dibiarkan meninggal terlantar di Australia tanpa pemeriksaan awal dan visum juga? Semakin banyak kecurigaan publik tak berjawab, semakin paranoid para mastermind untuk menimbulkan kekerasan baru. Inilah spiral kekerasan yang akhirnya akan menjerat para pelaku dengan sendirinya, bukan cuma anak muda lugu dan terlalu bersemangat yang dikorbankan.
Keempat, Vialls mendapatkan informasi kunci dari salah seorang manajer hotel yang merasakan keanehan, karena beberapa jam sebelum ledakan para penghuni hotel dan pengunjung berkebangsaan Amerika telah dievakuasi, setidaknya diberi peringatan dini (early warning). Sehingga tak aneh, apabila korban ledakan yang tewas dan luka-luka mayoritas pribumi, hanya seorang warga Belanda yang nahas di hari itu. Padahal, hotel Marriott dikenal sebagai tempat menginap dan rendevouz para ekspatriat. Apakah tak terasa aneh bin ajaib, manakala bom yang meledak di jam makan siang paling sibuk di sebuah hotel langganan warga Amerika, ternyata malah menimbulkan korban warga Belanda dan warga pribumi dari kelas bawah (sopir taksi, satpam, karyawan dan sebagainya)?
Informasi yang didapat Vialls terkonfirmasi dengan keterangan yang diperoleh wartawan dari seorang petugas hotel yang kebingungan: mengapa Kedubes AS membatalkan pemesanan 20 kamar beberapa jam sebelum ledakan? Padahal, acara resmi kedubes sebenarnya akan diadakan beberapa jam setelah ledakan, yakni keesokan harinya. Pertanyaan yang sangat sensitif ini sudah pasti dibantah kedubes AS, sebagaimana pihak kedubes Australia tak merasa perlu menjelaskan: mengapa aparat penyidiknya telah berada di lokasi pada jam-jam pertama setelah ledakan? Sehingga PM Howard dapat memberi konperensi pers yang detail dan valid, meskipun sedang berkunjung di sebuah wilayah terpencil di Cape York, Australia.
Cukuplah analisis Vialls menggagalkan skenario ketakutan dan perlawanan massal terhadap “teroris musuh AS dan sekutunya”. Terlalu banyak keanehan dan kejanggalan yang tak bisa disembunyikan otak perencananya. Sebenarnya dengan meniru kecermatan dan keingintahuan tak terbatas yang dimiliki Joe Vialls, maka kita dapat membuka sebagian tabir yang menutupi jejak “para teroris yang sebenarnya”. Kita perlu mencermati ulang kasus bom Marriott dari sisi: waktu dan lokasi peledakan, serta identifikasi pelaku dan motifnya (lihat Tabel). Dari sanalah terkuak manipulasi fakta dan pencitraan buruk yang berlapis-lapis terhadap kelompok Islam.
Waktu peledakan: terjadi dua hari menjelang vonis persidangan bom Bali atas terdakwa Amrozi dan pembacaan tuntutan terhadap Abu Bakar Ba’asyir. Anak muda Lamongan itu dihukum mati, tapi malah tersenyum dan mengcungkan dua jempol kepada hakim dan para pengunjung yang penuh emosi – sebagian besar bule. Semua terdakwa bom Bali dalam pemeriksaan telah mementahkan skenario yang ingin mengaitkan tindakan mereka dengan sikap politik Ba’asyir, yang dituding sebagai Ketua “Jemaah Islamiyah” (JI) dan pelaku makar terhadap Presiden Megawati. Pemilihan waktu yang tendensius, namun tak “secantik” perancang bom Bali (12 Oktober 2002) yang menetapkan aksinya persis “1 tahun 1 bulan 1 hari” pasca penyerangan terhadap gedung World Trade Centre (11 September 2001). Kesan yang ingin dimunculkan ialah perencana kedua peristiwa peledakan itu sama dan pelakunya berasal dari satu kelompok, dengan target serupa.
Lokasi peledakan: Marriott dikenal sebagai jaringan hotel milik warga AS keturunan Yahudi. Tapi, sesungguhnya di Indonesia merupakan franchise yang dimiliki warga keturunan Cina. Jadi yang dirugikan bukan AS, melainkan warga pribumi. Yang jadi korban juga kebanyakan warga pribumi, sementara warga AS dan sebagian ekspatrait luput karena sudah diberi peringatan dini. Berbeda dengan bom Bali, dimana parlemen Taiwan sempat protes kepada pemerintahnya sendiri, karena informasi dini tentang insiden itu yang diperoleh dari pemerintah AS tak disebarkan kepada warganya. Sehingga jatuhlah korban, termasuk warga Taiwan, yang tidak berdosa. Protes serupa juga dilakukan parlemen Inggris terhadap PM Tony Blair yang hanya melayani kampanye perang Bush, tapi mengabaikan kepentingan esensial warga Inggris. Pemerintah Indonesia, menurut salah seorang perwira Polri, kabarnya mengetahui akan terjadi ledakan beberapa pekan sebelumnya lewat penyadapan email dan SMS. Tapi, keterangan itu dibantah oleh perwira Polri yang lain. Sepertinya ada yang korslet.
Mayoritas korban bom Bali adalah warga Australia dan asing, sehingga menyita perhatian internasional. Apalagi bom Bali terjadi di Jalan Legian, pantai Kuta yang menjadi pusat kunjungan para turis mancanegara. Pemilihan lokasi yang seperti itu mirip insiden di kota Luxor, Mesir tahun 1997 yang diotaki agen Mossad Israel, dengan menjebak operator (dumb agent) anggota “Gamaah Islamiyah” (GI Mesir). Sedangkan mayoritas korban bom Marriott adalah pribumi, dengan maksud untuk menimbulkan “kebencian publik” terhadap teroris yang diburu Amerika dan sekutunya. Karena selama ini pemerintah Indonesia dianggap lembek terhadap “kelompok yang dituding teroris” (lalu diberi cap JI), demikian pula warga Indonesia terkesan toleran dan tak ambil peduli.
Pelaku peledakan: Dalam dua hari, atau 2 kali 24 jam, setelah peledakan, Polri menyatakan pelaku bom Marriott adalah Asmar Latin Sani, yang tewas bersama bom potasium bawaannya. Gubernur Sutiyoso malah berani menyebutnya sebagai “bom bunuh diri” untuk mendramatisasi keadaan. Tidak tanggung-tanggung, bukti bahwa Asmar pelakunya ditunjukkan dengan sepotong kepala yang tercecer di lantai 5 hotel, dan ditemukan sendiri oleh Kapolda Makbul Padmanegara. Dalam konteks ini, Presiden Mega patut memberi tanda jasa kepada Kapolda Makbul, karena menemukan sendiri kepala sang tersangka, sedangkan puluhan aparat penyidik lainnya perlu dipertanyakan apa saja yang mereka kerjakan di lokasi, sehingga luput melihat sepotong kepala – bukti yang istimewa!
Coba bayangkan jika teori polisi itu benar, kepala Asmar copot dari tubuhnya di lantai lobi, lalu menembus kap mobil dan atap lobi yang cukup tebal, hingga akhirnya memecahkan kaca jendela. Sungguh kuat batok kepala Asmar, sehingga tidak hancur menghantam berbagai penghalang itu, bahkan wajahnya seperti disiarkan media massa masih cukup jelas terlihat ciri-ciri utamanya. Ini benar-benar sebuah “keberuntungan” bagi Polri, seperti juga dulu menemukan nomor mesin (chasis) mobil yang hancur dalam bom Bali. Padahal, bom berkekuatan apakah yang mampu melontarkan benda keras setinggi lebih dari 20 meter? Kalau dulu I Made Mangku Pastika mendapat penghargaan internasional berkat hasil penyidikannya, maka sekarang giliran Kapolda Makbul patut dihargai karena menemukan kepala sang tersangka!
Ironisnya, setinggi apapun prestasi polisi domestik tak bakalan melewati kesigapan CIA atau FBI, bahkan dibandingkan polisi Thailand dan negara tetangga masih jauh tertinggal. Buktinya, selang 10 hari setelah meledaknya bom Marriott, justru Encep Nurjaman alias Hambali dicokok di Thailand. Setelah diinterogasi secukupnya, Hambali yang diyakini intelejen lintas negara sebagai pemuka JI dan penghubung Osamah bin Ladin (Al Qaidah) di Asia Tenggara, malah diserahkan ke CIA untuk disekap di Guantanamo, Kuba. Lihatlah, setelah berbulan-bulan didera tekanan domestik dan asing, Polri cuma berhasil mengelandang Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron – trio dari Tenggulun – serta Imam Samudera dan Asmar cs.
Sementara buronan kelas kakap semisal Omar al Faruq dan Hambali disergap langsung oleh CIA, sedang Polri dan BIN hanya jadi fasilitator atau informan belaka. Itu artinya seluruh proses penyidikan sangat bergantung pada hasil investigasi – dan interogasi, persuasif atau intimidatif! – yang dilakukan intelejen asing! Polri dan BIN hanya mencari muatan lokal dari skenario global yang sudah dipatenkan CIA.
Lebih tragis lagi, bahkan bendahara atau pemasok dana operasi JI justru ditangkap oleh aparat pemerintah Malaysia (Wan Min Wan Mat cs), dan konon kunci penghubung JI dengan Abu Bakar Ba’asyir disergap di Singapura (Abi Bakar Bafana cs). Polri hanya bisa memeriksa mereka di ruang tahanan negeri jiran, dan membukti hasil pemeriksaan melalui telekonperensi dalam persidangan. Untungnya, kemungkinan proposal yang disodorkan Presiden Gloria Arroyo dari Filipina, agar melibatkan pelarian Fathurrahman al Ghozi tidak terjadi. Atau, jangan-jangan masih ada skenario yang disimpan, bila efek bom Mariott tetap mengecewakan pesan sponsornya.
Motif peledakan: Polri mengungkapkan kemungkinan balas dendam pelaku bom Marriott atas vonis mati bagi para terdakwa peledakan bom Bali. Uniknya tak ada nuansa dendam di wajah Amrozi yang seperti biasa menerima vonis dengan tawa lepasnya. Begitu juga, Ali Imron – yang berpenampilan aneh-aneh selama persidangan dan mengakui sedang menerapkan ilmu intelejen! – malah menyesal atas perbuatannya. Sikap Ali Imron mendapat cemoohan dan komentar pedas dari saudara-saudaranya sendiri. Pelaku bom Bali tampak betul tak kompak, tak ada motif ideologis yang genuine membuktikan bahwa mereka bersatu dalam sebuah organisasi yang solid. Yang tersisa hanya teriakan takbir dan argumen jihad yang dibuat-buat, karena tak sesuai dengan konteks peristiwa yang sedang mereka hadapi. Tak ada satupun individu atau organisasi Islam yang memberi dukungan moral atas nasib mereka, kecuali keprihatinan bahwa anak-anak muda itu hanya jadi “kambing hitam” dari sebuah skenario gelap lintas negara.
Sebagai bukti mencolok bahwa kegiatan keislaman tidak terganggu dan tidak berhubungan sama sekali dengan ulah pelaku bom Bali adalah aksi protes Laskar FPI (Front Pembela Islam) terhadap tindakan terorisme. Mereka turut menentang kekejian pelaku bom Marriott. Beberapa hari kemudian Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menggelar kongres nasional yang kedua di kota Solo. Mereka juga mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan individu atau negara, dan menolak penerapan syariat Islam dengan jalan teror. Semua pesan itu tertangkap jelas lewat sorotan media massa, tapi dunia sudah kadung apriori dengan kelompok “radikal Islam” – julukan pihak Barat untuk kelompok yang ditidak mereka sukai — seperti FPI atau MMI. Kalau organisasi “JI” itu benar-benar eksis dan solid, maka mereka pasti akan menyerang sasaran dengan motif yang jelas dan tidak bias seperti kantor kedubes AS atau Australia, juga memilih target-target spesifik yang tidak melibatkan korban sipil tak berdosa.
Rangkaian peristiwa bom Bali dan bom Marriott mengaburkan segala motif ideologis. Itu bukan pesan teror untuk Amerika dan sekutunya, melainkan untuk pemerintah Indonesia semata: Anda mau mengikuti skenario perang global melawan terorisme “Islam”, atau kami yang memaksa Anda mengikutinya? Bahasa preman Al Capone sedang dipakai oleh Presiden Bush untuk menekan Mega dan kabinetnya yang lemah. Karena itulah tiba-tiba Menhan Matori mengusulkan penerapan ISA (Internal Security Act) di Indonesia secepat mungkin. Menko Susilo segera menyambutnya, tapi memasukkan proposal itu ke lacinya, setelah mendapat serangan gencar dari anggota DPR, pemuka Islam dan aktivis HAM. Lalu, Menkeham Yusril Ihza Mahendra merencanakan revisi UU Antitrorisme sebagai jalan kompromi. Sementara Polri melakukan penangkapan besar-besaran terhadap anggota “JI” di berbagai kota – termasuk mengkait-kaitkan aktivis Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang diakui perannya dalam penanganan korban konflik Maluku dan Poso.
Jika semua “setoran politik” itu belum dianggap cukup, maka teror bom (atau ada lagi modus yang lain?) akan merebak kembali, tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Penulis:Sapto Waluyo Tim Saksi
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Surat Mubarak untuk Israel Terungkap
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Mei 6, 2009
Petugas Kantor Kepresidenan Israel mempublikasikan penemuan surat dari Presiden Mesir, Husni Mubarak kepada Simon Peres beberapa waktu lalu (30/4). Lebih lanjut pihak kepresidenan menjelaskan, surat tersebut berisikan ucapan selamat Mubarak atas kemerdekaan Israel yang ke-61. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | 2 Komentar »
Mossad Terlibat Dalam Serangan 11 September 2001
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Maret 17, 2009
Sebuah artikel yang dimuat di mingguan American Free Press mengungkap keterlibatan agen intelijen Israel, Mossad dalam peristiwa serangan 11 September 2001 di AS. Yang mengejutkan, ketelibatan Mossad dalam serangan Black September itu lewat sepupu salah satu tersangka pelaku serangan 11 September. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | 1 Komentar »
Hanya Dengan kekuasaan Dapat Menegakkan Zionisme
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Februari 12, 2009
Siapa yang memenangkan pemilu di Israel? Apakah sayap kiri-Partai Buruh, sayap-kanan Partai Likud, atau sayap-tengah Partai Kadima? Dan, apa dampak kemenangan kekuatan politik ekstrim kanan yang dipimpin Evigdor Lieberman? Pemilu di Israel, kali ini, menandakan adanya kebangkitan Zionisme, yang sangat rasist, dan anti Arab. Dan, tidak lama lagi, perang akan berkobar di tanah Palestina dan Arab.Sekarang ini tidak penting partai mana yang menjadi pemenang pemilu Israel. Tidak layak diperdebatkan menilai sisi perbedaan dari partai-partai yang ada, Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Misionaris, Dibalik Rusuh Provinsi Tapanuli
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Februari 12, 2009
Kematian Aziz Angkat, ketua DPRD Sumatra Utara, adalah korban dari pihak yang memiliki kepentingan. Dari urut-urutan kejadiannya, sangat jelas ia menjadi sasaran utama para pengunjuk rasa pembentukan provinsi Tapanuli. Siapa yang diuntungkan ? betulkah ada agenda dari kaum non islam ? Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | 2 Komentar »
Strategi AS Menghancurkan Dunia Islam
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Januari 12, 2009
RAND Corporation (Rand Corp), sebuah lembaga think-tank AS yang berafiliasi dengan Pentagon memberikan sejumlah rekomendasi untuk memberangus kelompok-kelompok Muslim yang dianggap bisa mengancam dominansi Barat. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
BENARKAH ARAB SAUDI ANTEK ZIONIS DAN AMERIKA?
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Januari 9, 2009
Oleh Asy-Syaikh Shalih Luhaidan
Senin, 06 Januari 2009 – 08:53:09
Hit: 512
Penanya: “Syaikh, kami memiliki beberapa pertanyaan. Kami minta izin kepada Anda untuk menyebarkannya.”
Pertama ada pertanyaan yang berbunyi :
“Kami mendengar di sebagian media adanya celaan kepada negeri kita ini (Saudi ) dan pemerintahnya, khususnya di akhir-akhir ini. Hal ini terjadi setelah (kejadian) Israel menyerang Libanon. Beberapa komentar sangat kelewatan hingga mereka menjadikan negara Saudi, Israel dan Amerika adalah satu kelompok. Semuanya kafir dan saling berwala’ (berloyalitas). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Siapa di Balik Blog Anti Islam
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada November 21, 2008
Kebencian terhadap Islam memang tidak pernah berhenti hingga hari Kiamat. Selalu saja ada musuh-musuh Islam yang mencari celah untuk menyatakan permusuhan mereka. Salah satunya adalah dengan blog. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Rencana Strategis Amerika Serikat untuk Menguasai Indonesia
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada November 18, 2008
Ideologi manapun di dunia ini memiliki metode (thoriqoh/jalan) untuk meluaskan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia. Metode perluasan Kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang saat ini masih mendominasi dunia, telah berkembang sesuai zaman. Meski demikian, penjajahan tetap menjadi hal mendasar dalam Kapitalisme. Baik untuk menyebarluaskan ideologi ataupun mengeksploitasi negara-negara lain demi kepentingan para Kapitalis. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Bentrokan di Kota AKA “Test Case” Politik Transfer Israel
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Oktober 22, 2008
Israel nampaknya puas dengan reaksi dunia Arab atas kejadian Aka. Ketika pemimpin Arab tidak peduli, hanya pemimpin Hammas yang mengingatkan kejadian hanyalah preseden buruk dari rencana Israel
Oleh Musthafa Luthfi
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Israel Besar, Amerika Kecil
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Oktober 13, 2008
|
Dua professor terkemuka membongkar praktek “Lobi Israel”. Ternyata rakyat Amerika amat dirugikan. |
|
Oleh: Amran Nasution *
Penampilan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di Auditorium Roone Arledge, Columbia University, New York, 24 September 2007, jelas memancing kemarahan kelompok Yahudi fanatik atau garis keras. Ini bisa disebut sebuah kebobolan bagi Lobi Yahudi di Amerika yang selama ini begitu perkasa. Baca entri selengkapnya » |
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | 1 Komentar »
Sarkozy Diduga Agen Mossad
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Oktober 13, 2008
Terkuak, Hubungan Sarkozy dengan MossadJejak-jejak kebergantungan dan kesetiaan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, kepada Zionis Israel mulai tampak setelah lima bulan menjalani masa jabatannya. Ditengarai Sarkozy tidak hanya berhubungan, tapi menjadi agen khusus Dinas Intelijen Zionis Israel, Mossad. Kenyataan ini dilaporkan oleh koran Perancis Le Figaro. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »
Gus Dur Terima Penghargaan Yahudi
Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Oktober 13, 2008
Tabloid SUARA ISLAM EDISI 44, Tanggal 16 – 29 Mei 2008 M/10 – 23 Jumadil Awal 1429 H
Tokoh Nahdliyin Gus Dur hari Minggu 4 Mei lalu berangkat ke Amerika untuk menerima peng-hargaan dari Yayasan Simon Wiesenthal Center (SWC) – sebuah LSM di Amerika yang bergerak melindungi kepentingan bangsa Yahudi. Ditemani isterinya, Siti Nuriyah, selama seminggu di Amerika, Gus Dur dijadwalkan akan mengunjungi Universitas George Washington, bertemu dengan mantan koleganya Paul Wol-fowitz serta sejumlah senator Amerika dan juga calon kandidat Presiden Barack Obama. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Konspirasi Laknatullah | Leave a Comment »

